Sabtu, 25 April 2009, Unit Kesenian Minangkabau Institut Teknologi Bandung menyelenggarakan malam pagelaran yang merupakan salah satu dari rangkaian acara Dies Natalis-nya yang ke-34. Acara malam itu benar-benar meriah dan cukup memuaskan. Saya (bersama kawan-kawan yg lain) telah merencanakan untuk pergi nonton acara tsb dari jauh-jauh hari. Bayangkan saja, saya telah memiliki tiket pagelaran sejak hari Selasa, nomor tiketnya saja angka kecil, yaitu “0006″. Hehehe.
Saya bersama kawan-kawan yang berjumlah sekitar 25 orang, berangkat pukul setengah 6 sore (saking niatnya) karena takut terjebak macet kalau berangkat setelah Maghrib. Berhubung mobilnya kurang, sehari sebelumnya kami memilih untuk menyewa satu mobil lagi, biar semuanya kebagian naik mobil. Hahaha, niat.
Acara kali ini bertajuk “Basuluah Sumangaik Maukia Maso” dan untuk judul drama tahun ini adalah “Sasa Baganti Harok”. Acara dimulai sekitar pukul 19.30 dan berakhir pukul 23.15. Saya bersama kawan-kawan menonton dari awal hingga akhir pertunjukan. Alhamdulillah kami mendapatkan posisi yang lumayan strategis untuk menikmati pagelaran malam itu.

Hmmm. Bagaimana memulai reviewnya ya? Mungkin saya bagi ke dalam beberapa bagian saja ya. (biar gampang nulisnya, =p)
Tari Galombang : konsepnya sangat menarik dan kreatif. Kostum keren. Musiknya unik tapi terlalu lembek.
Tari Pasambahan : Musiknya BIASA banget, mungkin karena masih awal-awal jadi suara bass agak kurang mendentum, tapi setelah lagu pasambahan baru sound mulai oke. Formasi “ganti-gantian” (baca: sebagian diem, yg lain nari, trus gantian. Atau dua orang nari, yang lain diam semua) membuat tari terkesan “salah”.
Saran : kita tidak bisa memungkiri bahwa alat musik modern juga berpengaruh besar untuk kelangsungan acara, semoga untuk ke depannya penataan sound dari awal telah di setting maksimal sehingga bisa meminimalisir hilangnya “momen-momen”.
Tari Kipeh Marawa : sebelumnya saya baru pernah liat di video, alhamdulillah kemarin liat langsung dan hasilnya : RANCAK BANA. Keren deh. Nah, tari ini baru sangat cocok pakai formasi “ganti-gantian”.
Tari Tapuak Tingkah : tari favorit saya untuk malam itu. Kereeeeeeennnn banget. Two Four Thumbs Up! Apalagi uni yang paling kanan, bagus sekali gerakannya. Dendang pemusiknya juga sangat asik dan menarik. Untung ada tari ini, berhasil menutupi ketiadaan randai pada pagelaran kali ini.
Tari Indang : Salut buat pemusik! Aransemen yang sumpah tidak terpikirkan sama sekali oleh saya untuk memberi beberapa “klimaks” di bagian yang sebenarnya “biasa” saja. Hebat deh improvisasinya. Namun menurut saya temponya masih terlalu lambat, agak kasian penarinya, seperti memohon-mohon untuk lebih kencang lagi. Buat para penari (yang kali ini laki-laki sadonyo), gokil powernya! Walaupun ada sedikit masalah pada deta salah seorang penari, namun kemudian tertutupi oleh aksi lawak di akhir tari. Benar-benar ide yang birilian. Salut!
Tari Ulu Ambek Manyibak Galanggang : Cukup menarik, saya tidak menduga bahwa para pemuda-pemuda itu bakal menari, hehehe.
Tari Rantak : Kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnn!!!!!!!!! Hentakan kaki para penari membuat ketegasan tari ini makin kuat. Oke lah pokoknya. Duk duk duk tak, duk duk duk tak, duk duk duk tak tak duk duk tak.
Tari Piriang Manggaro : “Nan lah tarang yo nan lah tarang..” Ini dia nih dendang yang paling saya tunggu, musiknya ngeri banget. Penarinya oke banget, salut! Apalagi penari pria yang piringnya pecah gara-gara tabrakan sama crew, salut buat Anda! Benar-benar bisa menjaga konsentrasi gerakan, luar biasa. Walaupun dinodai dengan acara “tabrakan dengan crew” tsb (saya langsung menahan nafas ketika melihat musibah tersebut, sungguh mengesalkan), tapi Tari Piro tetap memberikan sensasi yang berbeda. Gerakan-gerakannya sungguh ekstrim dan bertenaga.


Drama : Lawak bagian pertama terlalu panjang. Actingnya luar biasa, benar-benar mendalami. (kayaknya dari tahun ke tahun aktornya jago-jago semua memang.. hehe.. ) Namun masih banyak dialog-dilaog yang membuat “dejavu”. Tapi tetap saja totalitas aktor-aktor UKM membuat saya terpesona. Baik itu adegan serius ataupun adegan lawak. Scene favorit : “bakaco lah da! BAKACO!”. Satu hal lagi : Tidak ada pesan moral Minangkabau dalam dialog drama. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Contoh dialog yang berkesan tahun lalu : “Ndak ado gadih Minang nan mode itu!”. Dialog ini sederhana, namun benar-benar menunjukkan level moralitas urang awak.
Musik Pengiring Drama : RANCAK BANA KO HA.. Dari perkenalan aktor sampai kato panutup benar-benar pas musik pengiringnya, keren!
Musik Kreasi : Maaf, saya tidak mendapatkan feel dari lagu ini. Saya rasa kurang tepat kalau hanya memasukkan satu lagu saja, apalagi lagunya Canon yang motonon itu. Mungkin sebaiknya UKM kembali mencoba memberikan musik kreasi seperti pada Dies ke-32 yaitu dengan menggabungkan beberapa lagu populer, termasuk lagu Minangkabau di dalamnya.
Akhirnya selesai juga review kali ini. Semoga tulisan ini dapat diambil sisi positifnya buat kita semua. Ko’ ado kato nan salah, rila jo maaf ambo dibari.. Sukses selalu buat UKM ITB! Semoga dies tahun depan lebih mantap lagi. Insya Allah saya datang lagi pastinya.. Hehehe..
Salut buat dunsanak disana. Overall, acara kemarin : RANCAK BANA.
- gambar dipinjam dari blog saudara IncekRajo dan account FB Isfa, regards!










