Budaya Minang


21
Jul 09

Adat nan Sabana Adat

Yang dimaksud dengan “adat sabana adat” adalah “Aturan Pokok dan Falsafah” yang mendasari kehidupan suku Minang yang berlaku turun temurun tanpa pengaruh oleh tempat, waktu, dan keadaan, sebagaimana dikiaskan dalam kata-kata adat :

Nan indak lakang dek paneh
Nan indak lapuak dek hujan
Paling-paling balumuik dek cindawan

“Adat nan Sabana Adat” ini merupakan Undang-undang Dasarnya Adat Minang (UUD-ADAT) yang tak boleh diubah. “Adat nan Sabana Adat” ini pada dasarnya  berlaku umum di seantero “Ranah Minang” baik Luhak nan Tigo maupun di rantau.


Yang termasuk dalam ADAT NAN SABANA ADAT ini adalah :
1. Silsilah keturunan menurut jalur garis ibu yang lazim disebut garis keturunan Matrilinial.
2. Perkawinan dengan pihak luar pesukuan yang lazim dikenal dengan tata perkawinan Eksogami, dan suami yang bertempat tinggal dalam lingkungan kerabat isteri yang disebut Matrilocal
3. Harta pusaka tinggi yang turun temurun menurut garis ibu dan menjadi miliki bersama “sejurai” yang tidak boleh diperjual belikan, kecuali punah.
4. Falsafah “alam takambang jadi guru” dijadikan landasan utama pendidikan alamiah dan rasional dan menolak pendidikan mistik dan irrasional (takhyul).
Keempat hal tersebut diatas  menurut kami termasuk dalam klasifikasi “adat nan sabana adat” yang daya lenturnya sangat kuat dan sulit digoyahkan. Tapi kalau sampai goyah, seluruh adat Minang pun akan rusak karena ke 4 hal tersebut di atas Tonggak Tuo-nya adat Minang”.


1
May 09

Dies Natalis 34 UKM ITB, Sabuga 25 April 2009

Sabtu, 25 April 2009, Unit Kesenian Minangkabau Institut Teknologi Bandung menyelenggarakan malam pagelaran yang merupakan salah satu dari rangkaian acara Dies Natalis-nya yang ke-34. Acara malam itu benar-benar meriah dan cukup memuaskan. Saya (bersama kawan-kawan yg lain) telah merencanakan untuk pergi nonton acara tsb dari jauh-jauh hari. Bayangkan saja, saya telah memiliki tiket pagelaran sejak hari Selasa, nomor tiketnya saja angka kecil, yaitu “0006″. Hehehe.

Saya bersama kawan-kawan yang berjumlah sekitar 25 orang, berangkat pukul setengah 6 sore (saking niatnya) karena takut terjebak macet kalau berangkat setelah Maghrib. Berhubung mobilnya kurang, sehari sebelumnya kami memilih untuk menyewa satu mobil lagi, biar semuanya kebagian naik mobil. Hahaha, niat.

Acara kali ini bertajuk “Basuluah Sumangaik Maukia Maso” dan untuk judul drama tahun ini adalah “Sasa Baganti Harok”. Acara dimulai sekitar pukul 19.30 dan berakhir pukul 23.15. Saya bersama kawan-kawan menonton dari awal hingga akhir pertunjukan. Alhamdulillah kami mendapatkan posisi yang lumayan strategis untuk menikmati pagelaran malam itu.

diesitb

Hmmm. Bagaimana memulai reviewnya ya? Mungkin saya bagi ke dalam beberapa bagian saja ya. (biar gampang nulisnya, =p)

Tari Galombang : konsepnya sangat menarik dan kreatif. Kostum keren. Musiknya unik tapi terlalu lembek.

Tari Pasambahan : Musiknya BIASA banget, mungkin karena masih awal-awal jadi suara bass agak kurang mendentum, tapi setelah lagu pasambahan baru sound mulai oke. Formasi “ganti-gantian” (baca:  sebagian diem, yg lain nari, trus gantian. Atau dua orang nari, yang lain diam semua) membuat tari terkesan “salah”.

Saran : kita tidak bisa memungkiri bahwa alat musik modern juga berpengaruh besar untuk kelangsungan acara, semoga untuk ke depannya penataan sound dari awal telah di setting maksimal sehingga bisa meminimalisir hilangnya “momen-momen”.

Tari Kipeh Marawa : sebelumnya saya baru pernah liat di video, alhamdulillah kemarin liat langsung dan hasilnya : RANCAK BANA. Keren deh. Nah, tari ini baru sangat cocok pakai formasi “ganti-gantian”.

Tari Tapuak Tingkah : tari favorit saya untuk malam itu. Kereeeeeeennnn banget. Two Four Thumbs Up! Apalagi uni yang paling kanan, bagus sekali gerakannya. Dendang pemusiknya juga sangat asik dan menarik. Untung ada tari ini, berhasil menutupi ketiadaan randai pada pagelaran kali ini.

Tari Indang : Salut buat pemusik! Aransemen yang sumpah tidak terpikirkan sama sekali oleh saya untuk memberi beberapa “klimaks” di bagian yang sebenarnya “biasa” saja. Hebat deh improvisasinya. Namun menurut saya temponya masih terlalu lambat, agak kasian penarinya, seperti memohon-mohon untuk lebih kencang lagi. Buat para penari (yang kali ini laki-laki sadonyo), gokil powernya! Walaupun ada sedikit masalah pada deta salah seorang penari, namun kemudian tertutupi oleh aksi lawak di akhir tari. Benar-benar ide yang birilian. Salut!

Tari Ulu Ambek Manyibak Galanggang : Cukup menarik, saya tidak menduga bahwa para pemuda-pemuda itu bakal menari, hehehe.

Tari Rantak : Kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnn!!!!!!!!! Hentakan kaki para penari membuat ketegasan tari ini makin kuat. Oke lah pokoknya.  Duk duk duk tak, duk duk duk tak, duk duk duk tak tak duk duk tak.

Tari Piriang Manggaro :Nan lah tarang yo nan lah tarang..” Ini dia nih dendang yang paling saya tunggu, musiknya ngeri banget. Penarinya oke banget, salut! Apalagi penari pria yang piringnya pecah gara-gara tabrakan sama crew, salut buat Anda! Benar-benar bisa menjaga konsentrasi gerakan, luar biasa. Walaupun dinodai dengan acara “tabrakan dengan crew” tsb (saya langsung menahan nafas ketika melihat musibah tersebut, sungguh mengesalkan), tapi Tari Piro tetap memberikan sensasi yang berbeda. Gerakan-gerakannya sungguh ekstrim dan bertenaga.

piropiro2

Drama : Lawak bagian pertama terlalu panjang. Actingnya luar biasa, benar-benar mendalami. (kayaknya dari tahun ke tahun aktornya jago-jago semua memang.. hehe.. ) Namun masih banyak dialog-dilaog yang membuat “dejavu”. Tapi tetap saja totalitas aktor-aktor UKM membuat saya terpesona. Baik itu adegan serius ataupun adegan lawak. Scene favorit : “bakaco lah da! BAKACO!”. Satu hal lagi : Tidak ada pesan moral Minangkabau dalam dialog drama. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Contoh dialog yang berkesan tahun lalu : “Ndak ado gadih Minang nan mode itu!”. Dialog ini sederhana, namun benar-benar menunjukkan level moralitas urang awak.

Musik Pengiring Drama : RANCAK BANA KO HA.. Dari perkenalan aktor sampai kato panutup benar-benar pas musik pengiringnya, keren!

Musik Kreasi : Maaf, saya tidak mendapatkan feel dari lagu ini. Saya rasa kurang tepat kalau hanya memasukkan satu lagu saja, apalagi lagunya Canon yang motonon itu. Mungkin sebaiknya UKM kembali mencoba memberikan musik kreasi seperti pada Dies ke-32 yaitu dengan menggabungkan beberapa lagu populer, termasuk lagu Minangkabau di dalamnya.

Akhirnya selesai juga review kali ini. Semoga tulisan ini dapat diambil sisi positifnya buat kita semua. Ko’ ado kato nan salah, rila jo maaf ambo dibari.. Sukses selalu buat UKM ITB! Semoga dies tahun depan lebih mantap lagi. Insya Allah saya datang lagi pastinya.. Hehehe..

Salut buat dunsanak disana. Overall, acara kemarin : RANCAK BANA.

- gambar dipinjam dari blog saudara IncekRajo dan account FB Isfa, regards!


10
Apr 09

Tari Piriang Manggaro

Tari Piriang Manggaro. Apa itu?? Bagi yang bukan orang Minang pasti kebingungan apa maksudnya, yang orang Minang pun belum tentu tahu (termasuk saya, hehe). Yang jelas tari ini merupakan salah satu varian dari Tari Piring secara umum. Tari Piring sendiri sebenarnya memiliki banyak jenis dan versi. Mungkin yang menjadi pembeda utama adalah musiknya. Tari Piring yang dikatakan biasa mungkin adalah Tari Piring yang memiliki verse dengan melodi lagu Mudiak Arau. “Anak urang.. Sabuak andaleh yo mama oi. Singgah ka rumah.. Si Sutan Mudo.. Si Sutan Mudo..”. Kemudian lagu tersebut dipadu dengan melodi-melodi yang makin lama makin kencang. Nada-nada yang digunakan juga termasuk kategori nada “ceria”, jadi sangat nyaman untuk dinikmati oleh mata dan telinga. Yah kira-kira begitu lah yang saya tahu soal Tari Piring biasa.  CMIIAW.

Bagaimana dengan Tari Piriang Manggaro? Tari Piriang Manggaro ini sangat berbeda dengan Tari Piring biasa. Saya agak kurang paham kalau dari sisi gerakan (karena saya bukan penari), yang jelas gerakan penari wanitanya tidak serumit Tari Piring biasa. Namun, sebaliknya gerakan penari prianya jauh lebih ekstrim dari yang biasa. Pertama kali berkenalan dengan tari ini yaitu waktu menonton acara Dies Natalis UKM ITB yang ke-32 di Sabuga. Acara yang bertajuk “Aso Palarai Ratok” tersebut menampilkan Tari Piriang Manggaro sebagai aksi pamungkasnya. Kesan pertama saya saat dendang mulai dimainkan adalah : Merinding. Ketukannya unik. Nadanya memang monoton, tapi suasana sakralnya benar-benar terasa. Tari tersebut benar-benar memberikan suasana yang berbeda dari Tari Piring biasa yang sudah sering saya saksikan secara langsung.
Sebenarnya banyak sekali jenis-jenis Tari Piring lainnya yang ingin saya lihat secara langsung. Kalau hanya lihat dari video-video saja sih kurang terasa feel-nya, hehehe.

By the way, dengar-dengar kabar, UKM ITB akan kembali menampilkan Tari Piriang Manggaro pada gelaran Dies Natalisnya yang ke-34. Acara tersebut konon akan diselenggarakan pada tanggal 25 April 2009 di Sasana Budaya Ganesha, Bandung. Wow, I’ll be there!

NB :

Bagi yang mau download musiknya Tari Piriang Manggaro(biar kerasa sakralnya), link downloadnya dapat dilihat di homepage UKM ITB. Biar gampang ini dia direct link-nya : download.

credits : Isfa, Uni Reisha, UKM ITB.


16
Jan 09

Opera Malin Kundang 17 Januari 2009

Penyanyi legendaris Indonesia, Titiek Puspa bersama Elly Kasim akan berkolaborasi dalam sebuah pementasan opera “Malin Kundang” sebagai sebuah kepedulian untuk melestarikan seni tradisi dan budaya Indonesia dari Sabang hingga Merauke. “Judul acara ini sebenarnya adalah ‘Save Our Culture‘ di mana di dalamnya terdapat opera Malin Kundang. Acara ini digelar untuk mengingatkan kita semua terutama generasi muda bahwa Indonesia memiliki kekayaan yang sangat besar dalam bidang seni budaya dan tidak kalah dari budaya luar negeri,” kata Titiek Puspa dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat sore.

Titiek mengungkapkan dalam pertunjukan opera yang berlangsung di Jakarta International Expo (Jitex) pada 17 Januari tersebut, ada gerak tari, lagu, dan akting dengan melibatkan lebih dari 200 orang. Para pengisi acara di antaranya artis dan penyanyi lintas generasi seperti Afgan, Gita Gutawa, Tantowi Yahya, Dorce Gamalama, Derry Drajat, dengan pengarah musik Elfa Secoria, dan pengarah pertunjukan Ari Tulang. “Saya merasa prihatin akan semakin menurunnya kadar kebanggaan generasi muda pada bangsanya sendiri, dan saya merasa bersalah kalau tidak melakukan sesuatu untuk bangsa ini,” katanya.

Untuk itu, ujar Titiek, bersama Sanggar Sangrina Bunda yang dipimpin Elly Kasim, mereka kemudian menggagas pergelaran kolosal sebuah operet yang berkisah tentang Malin Kundang. “Pertunjukan ‘Save Our Culture‘ ini saya harapkan dapat menjadi pintu yang akan membuka mata dunia dan membuat Indonesia bersinar di dunia internasional,” katanya.
Titiek Puspa adalah salah satu anggota Sanggar Tari Sangrina Bunda. Ia bergabung dengan kelompok ini pada tahun 2000 dan mengaku sangat terdorong untuk memajukan seni budaya Indonesia.

Sangrina Bunda didirikan pada 1978. Penyelenggaraan opera bersama Titiek Puspa dan Elly Kasim merupakan bagian dari perayaan usia 30 tahun sanggar tersebut. Elly Kasim sebagai pengelola sanggar mengungkapkan Sangrina Bunda telah 30 tahun berkeliling ke berbagai negara di Eropa, membawa misi kebudayaan, baik tari maupun opera dari sastra lisan Indonesia.

“Kami mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat internasional. Kali ini kami menggelarnya bagi masyarakat Indonesia untuk mengingatkan kembali bahwa kita punya seni budaya yang beragam dan patut untuk terus dijaga kelestariannya,” katanya.

Titiek menambahkan dalam acara ini akan hadir para duta besar negara sahabat, pengusaha, anak-anak dan remaja usia sekolah, dan berbagai kalangan yang peduli pada budaya Indonesia. Ia berharap dengan suksesnya acara ini pada 17 Januari mendatang, maka acara serupa bisa digelar untuk masyarakat umum.

Sumber Berita : Republika Online


6
Dec 08

Menyambut Ulang Tahun ke-38 Kota Payakumbuh

Iseng-iseng buka blog agregator Minangs.Com, saya menemukan beberapa link situs pemerintahan di Sumatera Barat. Salah satunya adalah situs pemerintah kota Payakumbuh. Akhirnya saya membuka situs tersebut (saya orang Payakumbuh.. hehe..) dan menemukan banyak hal yang “menarik”. Berikut beberapa hal yang “menarik” tersebut :

  1. Kota Payakumbuh sebentar lagi ulang tahun ke-38 loh! ini dia salah satu polling dari halaman utama situs tersebut :

    17 Desember 2008, Genap usia Kota Payakumbuh 38 Tahun. Secara bertahap pembangunan di Kota ini terus berkembang yang dilakukan Pemerintah Kota Payakumbuh bersama rakyat. Menurut Anda, untuk lebih memajukan Kota Batiah ke depan, sektor mana yang harus dipacu dan menjadi prioritas Pemko Payakumbuh dalam menjalankan roda pembangunan?

    Pilihan jawaban dari polling tersebut adalah : Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi Kerakyatan, Imtaq, dan Infrastruktur. Saya memilih yang mana? Setelah dipikir-pikir, walaupun saya tidak besar disana, saya rasa yang paling kurang adalah dari segi pendidikannya. Ternyata 71,4 % dari pemilih sependapat dengan saya. Sedangkan 28,6 % memilih bidang Ekonomi Kerakyatan. Tiga pilihan yang lain belum mendapat suara.

    Saya rasa ini cukup wajar. Segi kesehatan saya rasa sudah cukup baik untuk ukuran kota kecil seperti Payakumbuh. Pada bulan Februari 2008, saya memasang kawat gigi di salah satu Puskesmas di Payakumbuh. Walaupun cuma PUSKESMAS, alat-alatnya lumayan lengkap, bahkan ada layar LCD di alat kontrol giginya. Malah jika dibandingkan tempat kontrol gigi saya di Bandung, tampaknya masih lebih bagus alatnya yang di Puskesmas tersebut. Padahal tempat saya kontrol di Bandung adalah tempat praktek dokter, bukan Puskesmas. Namun, ada perbedaan yang cukup jelas dari sisi skill dokter. Dokter saya di Bandung agak kebingungan pada saat saya pertama kali kontrol. “Loh, koq gini ya?” , “Wah.. Beda nih…”. Yah kira-kira seperti itulah. Tapi untungnya dokternya baik, jadi mau deh melanjutkan kontrol gigi saya untuk bulan-bulan berikutnya sampai dengan sekarang. Oleh karena itu, faktor pendidikan sangat perlu untuk ditingkatkan.

    Bagaimana dengan IMTAQ? Ya masih amanlah. Walaupun saya pernah melihat suatu buku yang berjudul “Erosi Moralitas Minangkabau” yang membahas kerusakan moral generasi muda, namun tidak terlalu muncul di lingkungan yang saya lihat. Semoga tetap seperti itu. Amien. Kadang tersirat rasa bangga mendengar seseorang berucap kalimat “Anak gadih Minang ndak ado nan mode itu!” ketika melihat/menyaksikan/mendengar hal-hal yang tidak baik mengenai perilaku seorang wanita Minangkabau. Inilah hal yang harus kita jaga baik-baik.

    Infrastruktur? Saya tidak terlalu paham akan hal ini. Tapi yang jelas dalam membangun daerah ini ke deapnnya, hilangkanlah budaya : Awak samo awak juo. Memang banyak nilai positifnya, tapi lebih banyak lagi negatifnya.

    Intinya kita harus memajukan pendidikan. Tentu saja ini harus didukung penuh juga oleh kedua belah pihak, yaitu pemerintah dan masyarakat.

  2. Saya baru tahu bahwa kota Payakumbuh memiliki slogan : Payakumbuh Kota BATIAH. Apakah artinya batiah? Jujur saya tidak tahu. Hahaha. Yang jelas slogan tersebut ada kepanjangannya, yaitu : Payakumbuh Kota Bersih Aman Tertib Indah Asri Harmonis. Hehehe.
  3. Situs tersebut sangat BERANTAKAN! Nuff Said! Cek aja sendiri disini.

Akhir kata, semoga kota Payakumbuh dapat menuju ke arah yang jauh lebih baik untuk ke depannya. Maju terus dunsanak!

Lah tu.. Sokik poruik den..


2
Dec 08

Talempong

Wah. Sudah lama tidak main talempong membuat diri saya ingin membahas masalah talempong. Hehehe. Tadi malam saya mampir ke sekre Unit Seni Budaya Minang IT Telkom, sempat lah main talempong walaupun sebentar. Lumayan, mainin musik satu-dua tari. Saya sangat menyukai alat musik yang satu ini. Kenapa ya? Mungkin bukan alat musiknya yang saya suka, melainkan nada-nada yang dihasilkan dari pukulan panokok talempong tersebut. Hampir semua lagu-lagu tarian Minangkabau memiliki tempo yang cepat dan memerlukan skill yang tinggi juga tentunya. Two Thumbs Up untuk uda-uda dan uni-uni di seluruh dunia yang jago main talempong!

saya sedang bermain alat musik talempong pada acara "Alek Nagari" 2008, DIES NATALIS XIII USBM IT Telkom

saya sedang bermain alat musik talempong

Bagi para pembaca yang agak asing denga kata “talempong”, berikut kutipan dari Wikipedia Indonesia :

Talempong adalah sebuah alat musik khas Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan gamelan dari Jawa. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu, saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan. Talempong ini berbentuk bundar pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat tangga nada (berbeda-beda). Bunyi dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.

Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tari piring yang khas, tari pasambahan, tari gelombang,dll. Talempong juga digunakan untuk menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian dimulai dengan tangga pranada DO dan diakhiri dengan SI. Talempong diiringi oleh akor yang cara memainkanya sama dengan memainkan piano.

Lestarikan Budaya Indonesia! Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?


25
Nov 08

Elok Dek Awak Katuju Dek Urang

Salah satu syarat untuk bisa diterima dalam pergaulan ialah bila kita dapat membaca perasaan oang lain secara tepat. Dalam zaman modern hal ini kita kenal dengan ilmu empathi, yaitu dengan mencoba mengandaikan kita sendiri dalam posisi orang lain. Bila kita berhasil menempatkan diri dalam posisi orang lain, maka tidak mungkin kita akan memaksakan keinginan kita kepada orang lain. (saya banget nih.. :P)  Dengan cara ini banyak konflik batin yang dapat dihindari. Pepatah mengajarkan dengan tepat sebagai berikut :

Elok dek awak Yang elok menurut kita
Katuju dek urang (Namun juga) disukai orang lain

Segala sesuatu yang munurut pikiran sendiri adalah baik, belum tentu dianggap baik pula oleh orang lain. Kacamata yang dipakai mungkin sekali berbeda, sehingga pendapatpun berbeda pula. Kepala sama hitam, pikiran berbeda-beda.


25
Nov 08

Tenggang Raso

Ada lagi kutipan menarik dari buku “Adat Minangkabau : Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang(Amir MS) :

Pepatah memperingatkan sebagai berikut :

Bajalan paliharo kaki
Bakato paliharo lidah
Kaki tataruang inai padahannyo
Lidah tataruang ameh padahannyo
Bajalan salngkah madok suruik
Kato sapatah dipikia an

artinya:

Berjalan pelihara kaki
Berkata pelihara lidah
Kaki tertarung inai imbuhannya
Lidah tertarung emas imbuhannya
Berjalan selangkah, lihat kebelakang
Kata sepatah dipikirkan

Nan elok dek awak katuju dek urang
Lamak dek awak lamak dek urang
Sakik dek awak sakik dek urang

artinya :

Yang baik menurut kita, harus juga disukai orang lain
Yang enak menurut kita, harus juga enak menurut orang
Kalau sakit bagi kita, sakit pula bagi orang

Saat pertama bergaul dengan orang-orang Minang yang besar di ranah Minang, saya mengalami cullture-shocked (hahaha.. lebai..). Masyarakat Minangkabau sangat menjunjung tinggi budaya tenggang rasa. Sangat berbanding terbalik dengan saya yang suka blak-blakan. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami paradigma berpikir seperti ini. Mungkin demi menjaga kekeluargaan dan rasa kebersamaan antar masyarakat.

Menurut saya budaya ini memiliki nilai positif dan nilai negatif tentunya.

  • Positifnya : Sopan santun adat dijunjung tinggi, menjaga keutuhan nagari/organisasi
  • Negatifnya : Kadang lain di mulut lain di hati

Menurut Anda?


21
Nov 08

Sistem Matrilineal Minangkabau

Berikut adalah kutipan dari buku “Adat Minangkabau : Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang(Amir MS) :

Dalam sistem kekerabatan matrilineal terdapat 3 unsur yang paling dominan, yaitu :

  • Pertama : Garis keturunan “menurut garis ibu”
  • Kedua : Perkawinan harus dengan kelompok lain, di luar kelompok sendiri yang sekarang dikenal dengan istilah eksogami matrilineal
  • Ketiga : Ibu memegang peran sentral dalam pendidikan, pengamanan kekayaan, dan kesejahteraan keluarga

Setalah membaca kalimat tersebut, saya langsung teringat dengan adik perempuan saya, Citra Ayu Wardani. Dia adalah satu-satunya cucu perempuan dari garis keturunan ibu saya. Hahaha. Eksistensi keluarga dari garis keturunan nenek saya berada di pundaknya (lebih tepatnya di rahimnya). Hehehe.

Sangat menarik membayangkan bagaimana adik saya menyesuaikan diri di lingkungan ranah minang. Dia pasti kesulitan menggunakan bahasa Minang yang baik dan benar. Kita semua tahu, orang Minang yang gagap berbahasa Minang kerap jadi bahan cemoohan di lingkungannya. (pengalaman pribadi saya juga nih… =P)


15
Nov 08

Paradigma Berpikir

seorang laki-laki Minang

Kalau orang Minang ditanya adat itu apa? Jawabannya sederhana saja. Peraturan hidup sehari-hari. Kalau hidup tanpa aturan bagi orang Minang namanya “tak beradat”. Jadi aturan itulah yang adat. Adat itulah yang menjadi pakaiannya sehari-hari.

Bagaimana kita dapat menilai bahwa seseorang itu beradat atau tidak beradat? Sedangkan banyak orang Minang yang tidak besar dan tumbuh di budaya Minang namun mencintai budaya Minang. Bagaimana orang-orang seperti itu (termasuk diriku) bisa mengetahui adat yang dimaksud tanpa tinggal di ranah Minang? Apakah semua orang yang tidak tumbuh dan besar di ranah Minang dikategorikan sebagai orang “tak beradat”? Apakah semua orang asli Minang yang tidak bisa berbahasa Minang dikategorikan sebagai orang “tak beradat” juga?