Web Application Requirement dan Software Requirement

Pada dasarnya sama, Software Requirement dan Web Application Requirement sama pentingnya untuk setiap kasusnya masing-masing. Keduanya memiliki alur yang relatif sama, kalaupun ada perbedaan mungkin terdapat pada ruang lingkup dan artifak-artifaknya.

Keduanya pun kerap menghadapai permasalahan yang sama yaitu fenomena yang sering disebut dengan “Yes, But Syndrome” (That is what I meant, but not exactly what I meant) dan “Undiscovered Ruins Syndrome” (Now that I see it, I have another requirement to add) [02]

Dari ilustrasi diatas, muncul keinginan untuk menerapkan pendekatan engineering untuk memecahkan masalah tersebut, yang akhirnya membawa arus deras kemunculan cabang ilmu requirements engineering.

Sistemisasi proses negosiasi pengembang dan customer dalam requirements engineering dibagi dalam 3 proses besar yaitu: elicitation, specification, validation and verification. Formula ini kemudian juga dikenal dengan nama The Three Dimensions of Requirements Engineering [01]. Proses requirements engineering ini dilakukan secara iterasi dengan mengakomodasi adanya feedback dari customer.

Baik pengembangan software ataupun web application menerapkan cabang ilmu ini, oleh karena itu dapat dikatakan Software Requirement dan Web Application Requirement menggunakan alur proses yang sama, namun artifak dan ruang lingkupnya berbeda. Yaitu perbedaan siginifikannya adalah penggunaan browser pada web application.

Tags: ,

2 comments

  1. apaan nih har? web engineering?

  2. iya kak, hehehehehe
    ketahuan..

Leave a comment